Jakarta – Ramai perbincangan di media sosial terkait usulan Ketua Lembaga Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi (Kak Seto) tentang sekolah cukup tiga hari saja pada Mendikbud Nadiem Makarim. Kak Seto mengusulkan ini berlandaskan pengalaman selama 13 tahun di homeschooling (sekolah informal) miliknya yang berhasil meluluskan anak-anak berkualitas.
Namun, apakah ada perbedaan antara murid yang belajar di sekolah umum dan homeschooling? Menanggapi hal ini, psikolog Ratih Zulhaqqi, MPsi, dari RaQQi – Human Development & Learning Centre, menjelaskan dari berbagai sisi murid yang belajar di sekolah umum dan homeschooling.
“Kalau anak umum yang sekolah selama lima hari ya otomatis mereka punya kegiatan yang lebih konsisten dan kemudian mereka punya networking (pertemanan) yang lebih luas, karena pasti jumlah anak-anak yang homeschooling juga enggak akan terlalu banyak,” kata Ratih kepada detikcom, pada Kamis (5/12/2019).
Umumnya murid homeschooling adalah anak-anak yang membutuhkan kebutuhan khusus atau mempunyai keterbatasan waktu, sehingga tidak memiliki banyak kesempatan untuk belajar di sekolah umum.
Baca juga: Ramai Soal Kak Seto Usulkan Sekolah Tiga Hari, Ini Kata Psikolog
“Misalnya kalau dia anak normal, tidak bermasalah mungkin karena keterbatasan waktu, seperti artis yang lebih memilih homeschooling karena waktu belajarnya yang bentrok dengan waktu shooting. Sedangkan bagi yang membutuhkan treatment (perlakuan) khusus dalam belajar contohnya anak dengan konsentrasi, kalau dia sekolah di sekolah umum yang isinya satu kelas 40 siswa dengan satu orang guru, sudah dipastikan tidak akan maksimal, makanya homeschooling bisa jadi salah satu tujuan,” ucap Ratih.
Namun, jika benar diterapkannya sekolah hanya tiga hari dalam seminggu, menurut Ratih perlu adanya peran dari orang tua murid dalam memperlakukan anaknya selama di rumah agar tetap produktif. Alasannya karena akan semakin bertambah hari libur.
“Tapi yang jadi kendala selama ini adalah kalau dia hanya sekolah tiga hari, kemudian sisanya mau ‘ngapain’? Karena kebanyakan orang tua enggak stand by (tetap) di rumah. Kebanyakan orang tua itu adalah aktivitasnya banyak di luar rumah, dan di dalam rumah hanya dengan asisten rumah tangga, yang secara resources (pengalaman) itu enggak punya banyak kemampuan untuk bisa memperlakukan anak,” tambah Ratih.
Ratih memberikan pendapat untuk lebih memikirkan kurikulum yang tepat dalam pembelajaran. Tidak hanya mempermasalahkan lama atau sedikitnya jumlah hari belajar di sekolah dalam seminggu.
“Jadi, perlu benar-benar dipikirkan secara matang. Harus seperti apa kurikulum yang tepat untuk anak. Jadi, enggak cuma berhenti di ‘ok’ sekolah tiga hari terus (masalah), selesai dan aman,” tuturnya.
Baca juga: Disangka Stres Tugas Sekolah, Ingatan Remaja Ini Tiba-tiba Hilang